WahanaNews-Depok | Penikmat Warung Tegal (Warteg) di Kota Depok, siap-siap ‘keselek’ saat makan. Naiknya harga pangan dan Elpiji non-subsubsidi, membuat Komunitas Warung Tegal (Kowantara) membuat opsi menaikan harga menu makan sebesar 10 persen. Pemicunya, tidak semua warteg di Depok menggunakan gas epiji tiga kilogram.
“Kalau masalah kenaikan harga elpiji tidak bersinggungan, karena kebanyakan warteg menggunakan gas tiga kilogram dibanding gas 12 kilogram,”.
Baca Juga:
Siap-siap, Trayek Angkot di Depok Mau Ditambah
Menurutnya, jika seluruhnya migrasi pengguna gas elpiji 12 kilogram menjadi gas tiga kilogram. Tak menutup kemungkinan warteg yang ada di Kota Depok akan gulung tikar. Diketahui, hingga saat ini ada 2.000 hingga 2.500 warteg yang gulung tikar akibat pandemi.
“Jika warteg-warteg menggunakan gas melon, nantinya supplynya akan berkurang dan jadi susah dalam penyediaan menu,”.
Dia menuturkan, warteg yang ada di Depok pernah menghilangkan 10 item menu pada saat naiknya harga tahu dan tempe. Untuk saat ini, jika harga tempe atau tahu masih mengalami kenaikan pun tidak akan masalah. Pihak warteg masih bisa diukur dari porsi makanan.
Baca Juga:
Pebalap Depok Bikin Merah Mutih Berkibar di Mandalika
Berbeda dengan naiknya harga tempe, pihaknya akan mempertimbangkan jika harga gas masih akan terus naik. Tak segan-segan Kowantara akan menaikkan harga 10 persen. “Kalau gas yang naik, tidak hanya menu yang kami kurangi tapi bisa tidak jualan,”.
Mukroni masih memantau perkembangan harga gas kedepannya, jika memang akan mengalami lonjakkan yang cukup tinggi. Pihaknya juga turut menaikkan harga menu-menu makanan di warteg. “Kami lihat saja perkembangannya kedepan, kalau tahu tempe masih kami ukur porsinya. Tapi kalau gas sudah semuanya akan terdampak,”.
Sementara, Anissa yang merupakan pemilik Warteg Sedap Mantap yang berada di Jalan Kejayaan, Kelurahan Abadijaya Kecamatan Sukmajaya membenarkan, adanya kenaikan harga gas elpiji dan pangan. Namun, wartegnya masih mematok harga normal, agar para konsumen setianya dapat terus berkunjung ke warteg tersebut. “Kami tidak menaikkan harga menu, masih normal saja dengan harga mulai Rp10 ribu tergantung lauk,” .
Menu tahu, tempe, telur dan menu lainnya masih dijualnya dengan lengkap. Meski mendapat kerugian, namun dia lebih memilih untuk tidak menaikkan harga menu makanan dibanding harus sepi pengunjung. “Namanya jualan pasti ada ruginya, tapi saya lebih baik begitu tetapi warga tetap datang dan makan daripada tidak ada pengunjung sama sekali,” katanya.
Sebelumnya, pedagang daging sapi di Pasar Agung, Jaji Fahrozi mengatakan, harga daging sapi mencapai Rp130 ribu dari sebelumnya hanya Rp120 ribu. “Daging sapi naik Rp10 ribu perkilogramnya,”.
Dalam sepekan dua kali kenaikan, membuatnya geram. Hal itu mengakibatkan omset penjualannya menurum drastis. “Penjualan sangat berkurang drastis. Bisa dibilang 50 persen. Yang awalnya bisa sampai Rp10-12 juta sekarang hanya Rp5juta,”.
Ia menuturkan, biasanya kenaikan harga terjadi menjelang hari raya Rp150 ribu perkilogram. Belum hari raya sudah naik, membut dia berfikir ulang berjualan kedepannya. Saat ini hanya bebrapa pedagang dagiung yang berjualan dari 10 lapak. “Biasanya naik harganya pas menjelang lebaran. Kalau seperti ini kami juga berfikir apakah ada konsumen yang mau beli atau tidak,.
Sementara, penjual daging di Pasar Cisalak, Harun menambahkan, beberapa pedagang di Pasar Cisalak ada yang setuju harga daging naik, dan begitu juga sebaliknya. Menurutnya, kenaikan harga saat ini seharusnya berlaku di hari raya. Harun mengungkapkan, diperkirakan daging sapi akan naik lagi saat menjelang bulan Ramadan. “Yang jelas pada saat bulan puasa menjelang lebaran akan ada kenaikan lagi,”.
Tak hanya daging sapi dan minyak goreng yang melonjak naik, kali ini gas nonsubsidi juga mengalami kenaikan harga sejak (27/2) sampai (5/3) . Harga gas elpiji yang naik adalah gas yang berukuran 12 kg dan 5,5kg.
Wakil Ketua Bidang Elpiji Hiswana Migas Kota Depok, Imron Effendy menjelaskan, kenaikan harga gas elpiji berbeda disetiap ukurannya. Harga nonsubsidi elpiji mencapai Rp88 ribu untuk tabung Bright Gas 5,5kg dan Rp187 ribu untuk tabung bright gas ukuran 12kg. “Harga eceran tertinggi bright gas 12kg dari Rp163 ribu menjadi Rp188 ribu, 5,5 kg dari Rp78 ribu menjadi Rp88 ribu,”.
Dari sekian harga yang sudah ditetapkan, untuk birght gas ukuran 12kg mengalami lonjakan Rp24 ribu, sedangkan bright gas 5,5kg mengalami kenaikan Rp10 ribu. Sedangkan untuk gas elpiji 3kg tidak ada kenaikan harga. “Gas elpiji non subsidi naik karena mengikuti perkembangan terkini dari industri minyak dan gas,” .
Imron menambahkan, saat ini pihaknya belum terjun ke lapangan terkait persoalan gas ini, namun ia meyakinkan untuk saat ini stok gas non subsidi dapat terbilang aman. “Kalau stok untuk sekarang ini masih normal,”.
(JU)