DEPOK.WAHANANEWS.CO, Beji – Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) memperkuat komitmennya dalam menjaga keamanan data kesehatan melalui kolaborasi strategis dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Komitmen tersebut diwujudkan dalam penyelenggaraan seminar dan workshop bertajuk "Fortifying The Digital Hospital: Strategi Keamanan Siber Berbasis Standar Nasional Menuju Transformasi Layanan Kesehatan Indonesia" yang digelar di Auditorium RSUI, Jumat, 10 Juli 2026.
Kegiatan yang merupakan rangkaian agenda pada 8–9 Juli 2026 itu diikuti lebih dari 70 rumah sakit dari berbagai daerah sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem digital kesehatan nasional yang aman, tangguh, terpercaya, dan berdaulat.
Baca Juga:
RSUI Strategi Besar: Luncurkan Center of Excellence dengan Layanan Kesehatan Level Unggulan
Direktur Utama RSUI, dr. Kusuma Januarto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., mengapresiasi sinergi yang terjalin antara RSUI dan BSSN dalam memperkuat sistem keamanan informasi di sektor kesehatan. Menurutnya, percepatan transformasi digital di rumah sakit harus dibarengi dengan penguatan perlindungan terhadap data medis pasien.
"Transformasi digital meningkatkan kecepatan dan efisiensi layanan rumah sakit, tetapi juga dapat mendatangkan risiko kerawanan siber baru. Oleh karena itu, penguatan perlindungan terhadap kerahasiaan data medis pasien menjadi tanggung jawab bersama," ujar dr. Kusuma.
Ia menilai, kerja sama antara institusi kesehatan dan otoritas keamanan siber menjadi langkah strategis untuk memastikan layanan digital tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek perlindungan data.
Baca Juga:
Bahaya Campak , Dokter RSUI Shofa Luthfiyani: Dapat Berujung Fatal Jika tak Ditangani Sejak Dini
Dalam kesempatan yang sama, Deputi III Bidang Keamanan Siber dan Sandi Pemerintahan dan Pembangunan Manusia BSSN, Dr. Sulistyo, S.Si., S.T., M.Si., mengingatkan bahwa ancaman siber terhadap fasilitas kesehatan kini tidak lagi sebatas persoalan teknis, tetapi berpotensi mengganggu keselamatan pasien.
"Gangguan pada sistem teknologi informasi di rumah sakit bukan lagi sekadar insiden administratif biasa, melainkan ancaman nyata yang dapat berdampak langsung hingga pada keselamatan nyawa pasien," tegas Sulistyo saat menyampaikan keynote speech.
Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, BSSN berkomitmen memberikan pendampingan kepada fasilitas pelayanan kesehatan melalui pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS). Pendampingan dilakukan melalui bimbingan teknis guna meningkatkan kesiapan rumah sakit menghadapi serangan siber, sekaligus menjawab berbagai tantangan seperti integrasi sistem, penguatan sumber daya manusia, dukungan manajemen, hingga kesiapan anggaran.