DEPOK.WAHANANEWS.CO, Ciliwung – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Depok tahun ini bakal berlangsung dengan nuansa berbeda. Komunitas Ciliwung Depok bersama Program Studi Biologi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Arrahmaniyah akan menggelar upacara kemerdekaan di kawasan cadas Walungan Ciliwung, Kota Kembang, Grand Depok City (GDC), Pancoran Mas, Depok, Senin (17/8/2026).
Mengusung tema “Merdekakan Ciliwung dari Sampah, Alih Fungsi Sempadan dan Invasi Spesies Asing”, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi seremonial peringatan kemerdekaan. Para pegiat lingkungan menjadikan momentum tersebut sebagai ruang untuk menyuarakan pentingnya penyelamatan ekosistem Sungai Ciliwung.
Baca Juga:
Peduli Lingkungan, PLN Gelar River Clean Up di Ciliwung
Upacara dijadwalkan dimulai pukul 09.00 WIB dan terbuka bagi masyarakat umum. Salah satu atraksi yang menjadi ciri khas kegiatan tersebut adalah pengibaran Sang Merah Putih di tengah aliran Walungan Ciliwung.
Tim pengibar bendera nantinya akan datang menggunakan perahu dan mendarat di lokasi pengibaran. Prosesi tersebut akan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama seluruh peserta upacara.
Kegiatan tersebut telah menjadi tradisi tahunan komunitas dan relawan lingkungan di Depok. Upacara di kawasan Ciliwung itu diketahui telah digelar sejak 2016 sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi sungai sekaligus memperingati kemerdekaan Indonesia dengan cara yang dekat dengan alam.
Baca Juga:
Tirta Asasta Depok Angkut 10 Ton Sampah dari Ciliwung, Tegaskan Komitmen Lingkungan
Ketua Panitia Upacara 17 Agustus 2026, Iqbal Mujadid, mengatakan momentum kemerdekaan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan secara politik, tetapi juga sebagai dorongan untuk membebaskan lingkungan dari berbagai ancaman ekologis.
“Upaya memerdekakan sungai membutuhkan langkah nyata yang didasari oleh kesadaran ekologis yang kuat. Kemerdekaan harus dimaknai pula sebagai upaya menjaga sungai agar tetap sehat dan mampu menopang kehidupan masyarakat,” kata Iqbal dalam lepadan pers kepada DEPOK.WAHANANEWS.CO, Sabtu (15/8/2026).
Menurut dia, rangkaian kegiatan tahun ini akan membawa pesan utama mengenai empat persoalan yang dinilai menjadi tantangan serius bagi kelestarian Sungai Ciliwung.
Keempat isu tersebut meliputi pembebasan sungai dari sampah, limbah domestik dan industri, alih fungsi kawasan sempadan sungai, serta ancaman spesies asing yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.
“Ada empat pilar pembebasan ekologis yang ingin kami suarakan, yaitu merdeka dari sampah, merdeka dari limbah domestik maupun industri, merdeka dari alih fungsi sempadan, serta merdeka dari invasi spesies asing yang mengancam ekosistem asli Ciliwung,” ujar Iqbal.
Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian adalah keberadaan spesies asing, termasuk ikan sapu-sapu, yang disebut menjadi bagian dari dinamika ekosistem sungai dan perlu mendapat perhatian dalam upaya menjaga keberadaan spesies asli Ciliwung.
Melalui kegiatan tersebut, Komunitas Ciliwung Depok berharap peringatan kemerdekaan dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap kondisi sungai.
Pengibaran bendera di tengah Ciliwung pun diharapkan bukan sekadar atraksi simbolis, melainkan pesan bahwa semangat kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan.
Bagi para pegiat lingkungan, Ciliwung bukan sekadar aliran air yang membelah wilayah perkotaan. Sungai tersebut merupakan bagian penting dari ekosistem yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat di sepanjang daerah alirannya.
Karena itu, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di cadas Ciliwung Depok akan menjadi ajang untuk menggabungkan semangat nasionalisme dengan gerakan penyelamatan lingkungan.
Masyarakat umum yang ingin mengikuti upacara tersebut dapat hadir langsung di lokasi. Selain mengikuti prosesi pengibaran bendera, peserta juga akan diajak menyimak pesan-pesan ekologis mengenai pentingnya menjaga Ciliwung dari berbagai bentuk pencemaran, kerusakan sempadan, dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati.
[Redaktur: Hendrik I Raseukiy]