Keempat isu tersebut meliputi pembebasan sungai dari sampah, limbah domestik dan industri, alih fungsi kawasan sempadan sungai, serta ancaman spesies asing yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.
“Ada empat pilar pembebasan ekologis yang ingin kami suarakan, yaitu merdeka dari sampah, merdeka dari limbah domestik maupun industri, merdeka dari alih fungsi sempadan, serta merdeka dari invasi spesies asing yang mengancam ekosistem asli Ciliwung,” ujar Iqbal.
Baca Juga:
Peduli Lingkungan, PLN Gelar River Clean Up di Ciliwung
Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian adalah keberadaan spesies asing, termasuk ikan sapu-sapu, yang disebut menjadi bagian dari dinamika ekosistem sungai dan perlu mendapat perhatian dalam upaya menjaga keberadaan spesies asli Ciliwung.
Melalui kegiatan tersebut, Komunitas Ciliwung Depok berharap peringatan kemerdekaan dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap kondisi sungai.
Pengibaran bendera di tengah Ciliwung pun diharapkan bukan sekadar atraksi simbolis, melainkan pesan bahwa semangat kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan.
Baca Juga:
Tirta Asasta Depok Angkut 10 Ton Sampah dari Ciliwung, Tegaskan Komitmen Lingkungan
Bagi para pegiat lingkungan, Ciliwung bukan sekadar aliran air yang membelah wilayah perkotaan. Sungai tersebut merupakan bagian penting dari ekosistem yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat di sepanjang daerah alirannya.
Karena itu, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di cadas Ciliwung Depok akan menjadi ajang untuk menggabungkan semangat nasionalisme dengan gerakan penyelamatan lingkungan.
Masyarakat umum yang ingin mengikuti upacara tersebut dapat hadir langsung di lokasi. Selain mengikuti prosesi pengibaran bendera, peserta juga akan diajak menyimak pesan-pesan ekologis mengenai pentingnya menjaga Ciliwung dari berbagai bentuk pencemaran, kerusakan sempadan, dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati.